Memilih Moderat Berkemajuan

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Muhammadiyah adalah anugerah Allah SWT bagi bangsa Indonesia.  Melalui kontribusi gerakan pencerahan Islam yang dirintis KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah terus berikhtiar membumikan ajaran Alquran dan Hadis ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara kontekstual. 

Demikian pernyataan Presiden Joko Widodo mewakili pemerintah dan rakyat Indonesia saat memberi sambutan daring pada Milad 108 Tahun Muhammadiyah. “Jutaan penduduk Indonesia telah merasakan manfaat dari kemajuan dan inovasi yang dilakukan Muhammadiyah. Merasakan pelayanan yang diberikan persyarikatan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan pendidikan masyarakat”, tegas Presiden.

Pernyataan Presiden merupakan satu dari sekian banyak kesaksian dan apresiasi para tokoh bangsa atas perjalanan 108 tahun Muhammadiyah. Kami tidak bisa mengutip semua pernyataan para pihak dalam tulisan ini, kecuali menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas segala apresiasi dan kerjasama selama ini. 

Muhammadiyah senang dikritik. Kritik itu energi positif untuk makin aktif berdakwah amar makruf mahi munkar yang berkarakter moderat berkemajuan. Asalkan, kritiknya tidak menuntut Muhammadiyah berpenampilan “lain”, yang tidak sejalan dengan kepribadian dan khittah gerakannya.

Karakter Gerakan

Muhammadiyah sejak berdiri 18 November 1912 menegaskan diri sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Muhammadiyah perhimpunan Islam yang “menyebarloeaskan” dan “memajoekan” hal ihwal Agama Islam di Indonesia. Inilah fondasi awal Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Muhammadiyah lahir karena tuntuan situasi umat dan bangsa yang tertinggal. Kala itu bangsa berada Indonesia terjajah. Sedangkan umat Islam tidak berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni; terpecah belah tanpa persatuan; pendidikan tidak sejalan dengan tuntutan zaman; mereka hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme; serta pengaruh misi zending yang semakin kuat (Salam, 1968).

Kiai Dahlan memberi jawaban dengan melakukan pembaruan (tajdid) pemahaman Islam. Memperkenalkan pendidikan Islam modern. Gerakan baru membangun kesehatan dan pelayanan sosial berbasis Al-Ma’un dan PKO. Pengorganisasian zakat dan haji. Memelopori lahirnya organisasi perempuan Islam Aisyiyah yang berperan membidani Kongres Perempuan 1928.

Gerakan cinta tanah air Hizbul Wathan. Publikasi Islam melalui majalah Suara Muhammadiyah yang memperkenalkan penggunaan bahasa Indonesia. Tabligh di ruang publik dan usaha-usaha lain yang bersifat baru.

Para ahli menyebut Muhamamdiyah sebagai gerakan Islam modern atau reformis. Sebutan modernisme dan reformisme Islam secara khusus dilekatkan pada Muhammadiyah, sehingga label itu begitu kuat sampai saat ini. James Peacock (1986) menyebut Muhammadiyah dan Asisyiyah sebagai gerakan Islam modern “yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia”. Kemodernan yang ditampilkan Muhamamdiyah menghadirkan kemajuan sejalan ajaran Islam.

Kini 108 tahun berjalan. Etos dakwah dan tajdid yang berkarakter modern dan reformis itu menjadi warisan penting sekaligus berat bagi generasi Muhammadiyah saat ini. Kyai Dahlan berpesan agar penerusnya menjadi “pemimpin kemajuan Islam”. Pemimpin yang berjiwa, berpikiran, bersikap, dan bertindak maju.

Anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah niscaya bangga dengan organisainya. Jangan tertambat ke hati lain. Jadilah  aktor Muhammadiyah yang  berada dalam cakrawala “dunia besar” dan bebas dari sangkar besi “dunia kecil”. 

Muhamamdiyah saat ini niscaya menghadirkan secara lebih berkualitas Islam berkemajuan untuk mencerahkan peradaban umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Mendakwahkan Islam yang damai, toleran, dan berakhlak mulia, dan rahmatan lil-‘alamin.

Jadilah “ummatan wasatha” dan “syuhada ‘alan-nas” yang menampilkan uswah hasanah. Jangan terbawa arus dan bersimpati pada praktik beragama yang ekstrem, intoleran, kolot, gaduh, dan melawan kemajuan zaman atas nama apapun karena bertentangan dengan karakter keislaman dan jati diri Muhammadiyah.

Memberi Solusi

Muhammadiyah sejak awal kelahiran sampai kini tiada henti memberi solusi untuk negeri. Muhammadiyah bersama komponen bangsa lainnya bergerak dalam menyelesaikan masalah bangsa. Di  saat kritis, Muhammadiyah tampil menberi jalan keluar seperti dalam memberi titik kompromi Pancasila setelah satu hari proklamasi 17 Agustus 1945. Kini Muhammadiyah proaktif menghadapi pandemi Covid-19 maupun masalah negeri. 

Muhammadiyah terus berbuat lewat pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, membimbing umat di jamaah bawah, dan lain-lain secara   nyata memajukan umat dan bangsa. Aisyiyah dengan sekitar 23 ribu TK ABA/PAUD dan tiga universitasnya (Unisa) dan amal usaha lainnya juga wujud solusi untuk kemajuan. Pekerjaan dakwah bil-hal seperti itu sangat berat dan berkontribusi penting bagi masa depan umat dan bangsa. Meskipun mungkin dipandang tidak heorik dan karismatik.

Kesibukan Muhammadiyah memang harus dilakukan jika umat dan bangsa ingin maju.  Bukan kesibukan egoistik, tetapi langkah nyata membangun keunggulan. Kalau tiap hari ormas gaduh, kapan umat Islam dan bangsa Indonesia maju?

Situasi ini bukan meninggalkan ruang kosong, tetapi merupakan pilihan strategis apakah umat dan bangsa  ingin maju atau tidak. Itulah karisma Muhammadiyah dalam berislam. Menampilkan Islam yang uswah hasanah dan amal saleh berkemajuan. Meneladani Nabi Muhammad membangun al-Madinah al-Munawwarah.

Muhammadiyah juga melakukan kritik tegas terhadap kebijakan negara yang dianggap tidak tepat sebagai wujud amar makruf nahi munkar. Di antaranya tentang RUU HIP dan RUU Ciptakerja. Muhammadiyah memang tidak menempuh cara ekstrem dan gaduh dalam amar makruf nahi munkar, karena bukan pilihan yang baik dan tidak sejalan kepribadiannya.

Bila menampilkan wajah ekstrem tentu tampak heroik, tapi beresiko besar bagi masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia. Pengalaman satu abad cukup bagi Muhammadiyah menghadapi gelombang besar dan karang terjal.

Muhammadiyah niscaya istiqamah dengan gerakan dakwah moderat berkemajuan yang menebar pencerahan hidup. Islam ditampilkan dalam keteladanan dan amal shaleh. Jalan dakwah yang memajukan memang tidak menarik karena menuntut kerja keras dan usaha membangun keunggulan.

Pendekatan dakwah “lil-muwajjahah” (proaktif-konstruktif) merupakan pilihan Muhamamdiyah hasil Muktamar 2010, yang tidak mengizinkan cara dakwah “lil-mu’aradhah” (reaktif-konfrontatif). Warga Muhamamdiyah jangan terbawa arus, harus terus bersemangat menggerakkan usaha-usaha dakwah moderat berkemajuaan diserta keteladanan hidup.

Ketika umat semarak beragama dan masyarakat luas haus akan nilai-nilai agama, Muhammadiyah hadir dengan dakwah yang memberi kepastian nilai, kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, dan pencerahan. Seraya mencegah segala bentuk kekerasan, diskriminasi, ekstremisme, dan anarki dalam kehidupan. Muhammadiyah tidak akan menghadirkan Islam yang keras-ekstrem, meskipun mungkin disenangi sebagian kalangan. Karisma Muhammadiyah tidak di situ!

Berdakwah dan berbangsa selalu ada masalah. Kewajiban semua pihak berikhtiar menyelesaikan masalah secara optimal. Setelah itu bertawakal kepada Allah. Tidak perlu bersesal diri, berpatah asa, sangka buruk, serta saling menghujat dalam menghadapi masalah negeri.

Yakinlah, terdapat kuasa dan  rahasiah Tuhan di balik segala peristiwa di muka bumi ini. Kenapa meratapi? Allah berfirman yang artinya, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS al-Anbiya: 35).

Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan di halaman Republika pada Sabtu (28/11)