MUHAMMADIYAH, YOGYAKARTA — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, umat Islam diajak memaknai kemerdekaan sebagai amanah yang harus disyukuri melalui tindakan nyata.
Kemerdekaan perlu dirawat dengan menjaga persatuan, mengisi pembangunan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat dan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta Nanang Joko Purwanto dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (7/8).
Nanang mengawali khutbah dengan mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
Menurut Nanang, ayat tersebut mengingatkan bahwa perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan hingga Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 perlu ditempatkan sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur.
“Marilah kita syukuri kemerdekaan yang Allah berikan ini. Atas berkat rahmat dari Allah kita merasakan kemerdekaan ini,” tuturnya.
Ia menyebut berbagai tradisi masyarakat seperti malam tirakatan sebagai salah satu bentuk mengenang perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan jiwa, harta, dan nyawa demi kemerdekaan Indonesia. Namun, rasa syukur tersebut menurutnya harus diwujudkan secara lebih luas.
Nanang menjelaskan, syukur setidaknya diwujudkan melalui tiga dimensi, yakni dengan lisan, hati, dan perbuatan. Mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin merupakan bentuk syukur melalui lisan, sedangkan meyakini kemerdekaan sebagai anugerah Allah merupakan syukur dalam hati.
“Syukur bukan sekadar gerakan lidah kita, lisan kita di bibir ini, tetapi rasa syukur yang harus bertransformasi menjadi tindakan-tindakan nyata. Dan kita tingkatkan tindakan nyata itu menjadi tindakan-tindakan nyata yang berkualitas, tindakan nyata yang berdampak,” jelasnya.
Karena itu, peringatan kemerdekaan semestinya mendorong setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam merawat kemerdekaan. Salah satu bentuknya adalah menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman agama, adat istiadat, dan budaya yang dimiliki Indonesia.
Nanang juga mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan karya yang memberikan kemaslahatan. Ia mengutip sabda Rasulullah saw., khairun nas anfa‘uhum linnas, yang bermakna sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
“Inilah menjadi pengingat kita bahwa kita harus mengambil peran. Kita sudah dihadirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dunia ini harus membawa maslahat, kebermanfaatan bagi orang lainnya,” katanya.
Menurutnya, setiap orang memiliki ruang pengabdian sesuai posisi dan profesinya masing-masing. Para pelajar dan mahasiswa, misalnya, dapat mengisi kemerdekaan dengan menuntut ilmu secara tekun, penuh semangat, dan ikhlas karena Allah, sekaligus tetap menjaga budi pekerti.
“Engkaulah generasi masa depan bangsa. Kepada engkaulah kemajuan bangsa ini dititipkan,” pesannya.
Hal yang sama berlaku bagi para buruh, pekerja, petani, guru, dosen, teknisi, polisi, sopir, tenaga kesehatan, serta berbagai profesi lainnya. Setiap pekerjaan dapat menjadi ladang pengabdian untuk mengisi kemerdekaan sekaligus menjadi jalan mencari nafkah bagi keluarga.
Nanang menekankan, pekerjaan yang dilakukan dengan niat ibadah dapat menjadi amal kebaikan yang bernilai pahala. Karena itu, keberagaman profesi harus dipandang sebagai bagian dari harmoni besar dalam membangun bangsa.
“Semua profesi dan tugas dengan perannya masing-masing menjadi sebuah harmoni besar, ladang ibadah mengisi kemerdekaan, menegakkan keadilan, dan membawa kemakmuran untuk bangsa kita,” ujarnya.
Ia mendorong setiap warga menjalankan tugas dengan ikhlas, optimistis, dan berkualitas. Menurutnya, kerja yang dilakukan dengan kesungguhan dan tanggung jawab akan memperkuat peradaban serta menjadikan Indonesia sebagai negara yang semakin tangguh.
Pada bagian akhir khutbah, Nanang mengajak jamaah untuk mengisi kemerdekaan melalui amal-amal nyata yang memberikan dampak bagi kehidupan bersama. Persatuan dan kerja sama, menurutnya, menjadi modal penting untuk membangun Indonesia.
“Marilah setiap kita berusaha mengisi kemerdekaan ini dengan amal-amal nyata yang berdampak, saling menjaga persatuan dan saling bekerja sama membangun negara Indonesia tercinta,” pungkasnya.
Ia berharap setiap ikhtiar, sekecil apa pun, dapat menjadi amal kebajikan yang bernilai di hadapan Allah. Pada saat yang sama, berbagai upaya tersebut diharapkan mampu menghadirkan Indonesia sebagai negeri yang aman, makmur, dan memperoleh ampunan serta kasih sayang Allah.
“Semoga negeri kita menjadi mercusuar peradaban dunia yang memancarkan cahaya keindahan, cahaya keadilan, cahaya kemakmuran, cahaya kemajuan, yang juga cahaya keluhuran budi pekerti,” harapnya.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!