SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta melaksanakan Pengajian Keluarga Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) sebagai upaya mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Kampus 3 SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dan berlangsung dengan khidmat serta penuh suasana kekeluargaan.
Acara dipandu oleh MC Bapak Eka Wahyu Saputra, S.Pd. dan diawali dengan pembacaan kalam ilahi yang menambah kekhusyukan kegiatan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Ibu Fitri Sari Sukmawati, M.Pd.
Dalam sambutannya, Ibu Fitri menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran seluruh keluarga besar GTK, serta mengungkapkan rasa bangganya dapat menjadi bagian dari keluarga besar SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta (MuGa). Beliau juga menyampaikan gambaran kondisi sekolah berdasarkan jumlah peserta didik, bahwa sekolah dengan jumlah siswa sekitar 500-an tergolong aman, 300-an perlu ditingkatkan, sementara 200-an berada pada kondisi yang mengkhawatirkan.
Lebih lanjut disampaikan bahwa saat ini banyak sekolah mengalami penurunan jumlah siswa. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya bertambahnya sekolah swasta baru, hadirnya program pemerintah seperti sekolah rakyat dan sekolah Garuda, serta penambahan kelas di sekolah negeri. SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta juga mengalami penurunan jumlah siswa, namun “akeh kancane” dan masih berada pada kondisi yang relatif aman karena memiliki kebersamaan. Pihak sekolah terus berupaya meningkatkan jumlah siswa melalui peningkatan kualitas pelayanan, program unggulan, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Pengajian inti disampaikan oleh Ustadz Hartanto, S.Sos. yang mengulas filosofi blangkon sebagai sarana refleksi kehidupan. Beliau menjelaskan bahwa bagian kanan dan kiri blangkon melambangkan ulat, makhluk yang dari pagi hingga malam hanya makan dan berpotensi merugikan petani. Namun karena ketundukannya kepada Allah, ulat tersebut “berpuasa” dan berubah menjadi kepompong, yang dilambangkan oleh mondolan blangkon di bagian belakang.
Pada fase kepompong, makhluk tersebut tidak makan dan tidak ke mana-mana, hanya mampu menoleh ke kanan dan kiri, dianalogikan seperti manusia yang sedang berdzikir dan bermuhasabah. Setelah proses tersebut, ia berubah menjadi kupu-kupu, yang dilambangkan oleh bentuk kanan-kiri mondolan blangkon menyerupai sayap. Pada tahap ini, ia menjadi makhluk yang disukai banyak orang, tidak lagi merugikan, bahkan memberikan manfaat bagi lingkungan melalui proses penyerbukan, dengan makanan yang halal dan baik berupa madu.
Kegiatan pengajian ditutup dengan doa, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin kebersamaan yang semakin kuat serta tumbuh semangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dengan pelayanan yang baik serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!