Penulis:
Susanti
Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah PWM DIY
Bagaimana jika K.H. Ahmad Dahlan hidup pada hari ini? Barangkali beliau akan berhadapan bukan hanya dengan persoalan umat di sekitar Kauman, tetapi juga dengan kecerdasan buatan, media sosial, perubahan iklim, disrupsi pendidikan, krisis moral, dan generasi yang memperoleh pengetahuan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon genggam.
Pertanyaan itu bukan sekadar permainan imajinasi. Justru dari sanalah kita dapat bertanya: Muhammadiyah seperti apa yang dibutuhkan masa depan?
Sering kali ketika membicarakan Muhammadiyah masa depan, perhatian kita tertuju pada gedung yang semakin tinggi, sekolah yang semakin banyak, rumah sakit yang semakin modern, atau teknologi yang semakin canggih. Semua itu penting. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: manusia yang menggerakkan Muhammadiyah.
Di sinilah kita perlu kembali kepada K.H. Ahmad Dahlan.
Dalam Tujuh Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan dan Tujuh Belas Kelompok Ayat Al-Qur’an, kita menemukan sosok yang tidak berhenti pada memahami ajaran agama. Al-Qur’an harus dihidupkan dalam tindakan. Pengetahuan harus melahirkan amal. Keyakinan harus melahirkan keberanian.
K.H. Ahmad Dahlan tidak membangun Muhammadiyah dengan menunggu keadaan menjadi ideal. Ia bergerak ketika keadaan justru penuh tantangan. Ia mengajarkan bahwa kebenaran yang telah diyakini tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, kepentingan pribadi, ataupun keinginan mendapatkan pengakuan manusia.
Semangat inilah yang menurut saya justru semakin dibutuhkan Muhammadiyah di masa depan.
Sebab tantangan Muhammadiyah kelak mungkin bukan lagi sekadar bagaimana membangun sekolah atau rumah sakit. Tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi organisasi Islam yang berkemajuan tanpa kehilangan ruh keislamannya.
Teknologi akan berubah sangat cepat. Hari ini kita berbicara tentang media sosial dan kecerdasan buatan. Besok mungkin muncul teknologi yang belum pernah kita bayangkan. Anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah akan hidup dalam dunia yang berbeda jauh dari dunia kita.
Muhammadiyah tidak boleh takut terhadap perubahan itu. Tetapi Muhammadiyah juga tidak boleh menjadi pengikut perubahan tanpa arah.
Teknologi adalah alat. Ia dapat digunakan untuk mencerdaskan atau menyesatkan, membangun atau menghancurkan, mendekatkan manusia atau justru membuat manusia kehilangan kemanusiaannya. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar kader yang melek teknologi, tetapi kader yang memiliki kompas moral ketika menggunakan teknologi.
Di sinilah pendekatan bayani, burhani, dan irfani menemukan relevansinya. Bayani memberi pijakan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Burhani mengajak manusia berpikir kritis dan menggunakan ilmu pengetahuan. Irfani menumbuhkan kedalaman spiritual dan kepekaan hati. Ketiganya diperlukan agar kemajuan tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin pintar, tetapi juga semakin beriman dan manusiawi.
Namun, ada tantangan yang lebih dekat dan mungkin lebih sulit: jangan sampai Muhammadiyah menjadi semakin besar, tetapi semakin tipis nilai Muhammadiyah dalam perilaku warganya.
Muhammadiyah telah memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga ekonomi, organisasi otonom, dan berbagai amal usaha. Ini adalah modal besar untuk masa depan. Tetapi semua itu pada akhirnya kembali kepada manusia yang menjalankannya.
Apa gunanya berbicara tentang Islam berkemajuan jika pemimpinnya tidak memberikan keteladanan? Apa gunanya membangun lembaga pendidikan modern jika pendidikan karakter hanya menjadi slogan? Apa gunanya memiliki teknologi canggih jika manusia di dalamnya kehilangan kejujuran, kepedulian, dan keikhlasan?
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bagi Muhammadiyah bukan “seberapa canggih Muhammadiyah di masa depan?”, melainkan “seberapa kuat karakter manusia Muhammadiyah di masa depan?”
Kita membutuhkan pemimpin yang berani seperti Ahmad Dahlan, tetapi hidup dalam konteks zamannya. Kader yang mampu membaca Al-Qur’an sekaligus membaca perubahan zaman. Warga Muhammadiyah yang kuat dalam ibadah, luas dalam ilmu, terbuka terhadap teknologi, dan hadir memberi manfaat di tengah masyarakat.

Jika Ahmad Dahlan hidup di era AI, mungkin beliau tidak akan sibuk bertanya apakah teknologi itu boleh digunakan. Bisa jadi pertanyaan beliau justru lebih sederhana dan lebih mendasar: “Teknologi ini akan kita gunakan untuk apa?”
Pertanyaan itulah yang seharusnya kita bawa menuju masa depan.
Muhammadiyah tidak harus kembali ke masa lalu. Justru Muhammadiyah harus berani melangkah jauh ke masa depan. Tetapi semakin jauh melangkah, semakin penting mengetahui dari mana kita berasal.
Kita boleh memiliki kecerdasan buatan, tetapi jangan kehilangan kecerdasan nurani. Kita boleh membangun amal usaha yang modern, tetapi jangan kehilangan semangat mengabdi. Kita boleh menjadi organisasi yang besar, tetapi jangan kehilangan keberanian untuk memperbaiki diri.
Sebab masa depan Muhammadiyah pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangun, tetapi tentang manusia seperti apa yang berhasil dibentuk.
Dari Ahmad Dahlan kita belajar: perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari keyakinan, ilmu, keberanian, dan satu langkah nyata.
Dan mungkin, itulah cara terbaik Muhammadiyah menyambut masa depan: teknologinya boleh semakin maju, zamannya boleh semakin berubah, tetapi ruh perjuangannya tetap menyala.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!