Penulis: Fitri Sari Sukmawati, M.Pd
Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta
Dunia pendidikan sedang memasuki sebuah perubahan besar. Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibicarakan di laboratorium teknologi. AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang kelas. Ia dapat membantu mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menganalisis data, bahkan membantu manusia menghasilkan berbagai karya. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, muncul sebuah pertanyaan penting: Manusia seperti apa yang perlu kita siapkan untuk masa depan? Apakah cukup dengan menghasilkan murid yang menguasai teknologi? Ataukah kita membutuhkan generasi yang mampu memahami berbagai bidang ilmu, menghubungkan pengetahuan, menciptakan gagasan baru, dan menggunakan teknologi secara bijaksana?
Fitri Sari Sukmawati, M.Pd,adalah kepala sekolah SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta menuliskan proyeksi masa depan dengan memperkenalkan konsep masa depan melalui Polymaths in AI Era yang dikaitkan dengan Pembelajaran Mendalam terkhusus disekolah Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah di era VUCA sekarang ini dituntut untuk bisa menghasilkan kader yang tidak hanya kuat dalam memegang teguh ajaran Islam berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah, tetapi yang juga mampu menguasai interdisipliner keilmuwan masa depan, agar bisa menjadi survivor yang bermanfaat dan berdampak bagi umat. Berdasarkan pengamatan, proses membaca, pencatatan pribadi, dan perenungan atas persoalan pendidikan sekarang ini, untuk menuju kesiapan generasi masa depan, pola pembelajaran masa depan harus berkesinambungan dari kurikulum sekarang untuk ditarik ke depan, tentu berangkat dari persoalan hari ini dan proyeksi ke masa depan. Nah, penulis mengenal polymath, dari literasi internasional yang telah dibaca, sepertinya menarik untuk kita angkat untuk melengkapi pendekatan pembelajaran mendalam. Artikel terbaru “Beyond Grades: Temperament and Interests, but Not School Grades, Highlight Distinct Polymathic Learning Abilities” (2026) sangat menarik untuk artikel Ibu. Penelitian ini memandang polymathy sebagai kombinasi breadth, depth, dan kemampuan mengintegrasikan pengetahuan lintas domain (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41745213/) dan literatur internasional yang sudah membahas tentang polymathy dan kebutuhan murid masa depan.

Polymath secara sederhana dapat dipahami sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang luas dalam berbagai bidang. Seorang polymath tidak hanya mendalami satu disiplin, tetapi mampu mempelajari, menghubungkan, dan mengintegrasikan berbagai bidang pengetahuan. Kemampuan yang didapat oleh murid seperti polymath yang diharapkan, maka perlu disiapkan konsep besar perubahan yang kita tujukan untuk guru. Gambaran contoh polymath, yaitu seorang murid dapat mencintai matematika sekaligus seni. Murid dapat belajar bahasa sekaligus teknologi. Ia dapat memahami sains sekaligus memiliki kepedulian sosial. Ia dapat menggunakan AI untuk menciptakan karya, tetapi tetap mampu mempertanyakan apakah karya tersebut benar, bermanfaat, etis, dan manusiawi. Dengan demikian, polymath bukan sekadar “serba bisa”. Polymath adalah pembelajar yang mampu menghubungkan berbagai pengetahuan untuk menghasilkan pemahaman dan solusi baru.
Konsep polymath memiliki hubungan yang kuat dengan Pembelajaran Mendalam (deep learning dalam konteks pendidikan), dilakukan dari “belajar banyak” menjadi “berfikir mendalam”. Pembelajaran mendalam bukan sekadar membuat murid mempelajari lebih banyak materi. Sebaliknya, murid diarahkan untuk memahami konsep secara bermakna, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, berkomunikasi, dan merefleksikan proses belajarnya. Inilah fondasi penting untuk melahirkan polymath. Bayangkan seorang murid mempelajari masalah perubahan iklim. Ia tidak hanya belajar dari perspektif IPA. Ia dapat membaca data statistik dalam matematika, mempelajari kebijakan publik dalam ilmu sosial, menulis argumentasi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, membuat kampanye digital dengan teknologi, dan mengeksplorasi nilai-nilai Islami tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Satu persoalan dapat menjadi pintu masuk menuju banyak disiplin ilmu. Inilah pembelajaran yang sesungguhnya mendalam: bukan memperbanyak pelajaran, tetapi memperluas cara melihat persoalan. AI tidak menggantikan Polymath, tetapi memperkuatnya. Dahulu, seseorang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengakses pengetahuan dari berbagai bidang. Kini, teknologi memungkinkan seseorang belajar lebih cepat dan lebih luas. AI dapat menjadi tutor, teman berdiskusi, asisten riset, penerjemah, simulator, maupun mitra untuk mengembangkan ide. Kemunculan AI membuat konsep polymath semakin menarik. Satu hal yang tidak boleh dilupakan: AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap harus menentukan pertanyaan yang tepat. AI dapat membantu membuat sebuah tulisan, tetapi manusia harus menentukan gagasan, tujuan, nilai, dan makna tulisan tersebut. AI dapat membuat sebuah gambar, tetapi manusia yang menentukan pesan apa yang ingin disampaikan. AI dapat menganalisis data, tetapi manusia tetap harus menilai apakah data tersebut valid dan bagaimana hasil analisis itu digunakan. Karena itu, pendidikan masa depan tidak boleh hanya mengajarkan murid cara menggunakan AI, tetapi juga cara berpikir ketika menggunakan AI. Literasi AI harus berjalan bersama literasi informasi, literasi digital, literasi bahasa, literasi visual, critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan yang paling penting adalah karakter.
Bagi sekolah Muhammadiyah, gagasan tentang pendidikan polymath dapat ditempatkan dalam kerangka Islam Berkemajuan. Pendidikan Muhammadiyah sejak awal memiliki semangat untuk membangun manusia yang berilmu, beramal, berakhlak, dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Karena itu, transformasi pendidikan di era AI tidak seharusnya hanya berbicara tentang perangkat digital atau kecanggihan teknologi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Bagaimana teknologi digunakan untuk memuliakan manusia dan menghadirkan kemaslahatan? Sekolah Muhammadiyah masa depan perlu membangun ekosistem yang memungkinkan murid menjadi pembelajar lintas disiplin. Murid tidak harus dipaksa memilih antara “sains atau seni”, “teknologi atau humaniora”, “agama atau ilmu pengetahuan”. Sebaliknya, sekolah perlu membuka ruang agar berbagai bidang tersebut dapat saling berdialog. Matematika dapat bertemu seni. Bahasa dapat bertemu teknologi. Sains dapat bertemu agama. Sejarah dapat bertemu AI. Kewirausahaan dapat bertemu pendidikan karakter. Dan semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun manusia yang utuh.
Jika murid diarahkan menjadi polymath, maka peran guru juga perlu berkembang. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber utama informasi. Informasi dapat ditemukan dengan mudah melalui teknologi. Peran guru justru semakin penting sebagai learning designer, mentor, fasilitator, dan pembangun karakter. Guru perlu merancang pengalaman belajar yang menantang murid untuk bertanya, mengeksplorasi, menghubungkan berbagai disiplin, menciptakan sesuatu, dan melakukan refleksi. Di sinilah kepala sekolah sebagai learning leader memiliki peran strategis. Kepala sekolah perlu membangun budaya sekolah yang tidak takut terhadap perubahan. Guru perlu diberikan ruang untuk bereksperimen. Kolaborasi antarmata pelajaran perlu diperkuat. Teknologi perlu diintegrasikan secara bermakna. Dan yang tidak kalah penting, sekolah harus menciptakan budaya belajar sepanjang hayat. Sekolah masa depan bukanlah sekolah yang memiliki teknologi paling banyak. Sekolah Muhamamdiyah masa depan adalah sekolah yang mampu membangun karakter kuat pada iman dan taqwa, focus implementasi nilai – nilai Islami dan mampu menggunakan teknologi untuk membuat manusia belajar lebih bermakna, serta memiliki mental yang Growth Mindset (Pola Pikir Bertumbuh) untuk semua warga sekolah, terfokus pada murid.
Kita sering berharap murid memiliki banyak talenta. Namun, pendidikan masa depan perlu bergerak lebih jauh: bukan hanya multitalenta, tetapi multiperspektif. Seorang murid mungkin tidak menjadi ahli dalam semua bidang. Itu bukan tujuan polymath. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengatakan: “Saya memahami persoalan ini dari lebih dari satu sudut pandang.” Kemampuan tersebut akan menjadi semakin penting karena persoalan dunia semakin kompleks. Masalah lingkungan, kesehatan, ekonomi, teknologi, kemanusiaan, dan pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan titik-titik pengetahuan yang sebelumnya terlihat terpisah. Bayangkan sebuah sekolah Muhammadiyah pada tahun 2045. Di dalam kelas, murid tidak hanya duduk mendengarkan guru. Mereka melakukan penelitian, menciptakan proyek, berdiskusi, menggunakan AI secara etis, memecahkan masalah nyata, dan berkolaborasi dengan murid dari berbagai negara. Seorang murid mungkin sedang mengembangkan aplikasi untuk berdakwah serta mampu membantu masyarakat. Murid lain membuat karya seni berbasis AI yang mengangkat budaya lokal. Kelompok lain melakukan penelitian tentang lingkungan. Ada pula yang mengembangkan proyek kewirausahaan sosial. Mereka menggunakan teknologi global, tetapi tetap berakar pada nilai lokal dan keislaman. Mereka berpikir global, tetapi bertindak untuk memberikan manfaat di lingkungannya. Inilah sekolah Muhammadiyah yang visioner: sekolah yang tidak sekadar mempersiapkan murid menghadapi masa depan, tetapi ikut menciptakan masa depan.
Tulisan ini bukan hanya berbicara proyeksi kedepan dari sisi pendidikan yang popular visioner kedepan, tetap sekolah kami sudah mulai merancang untuk bagaimana murid SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta bisa menjadi kader Muhammadiyah yang polymath masa depan dengan pendekatan pembelajaran mendalam, mental pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan dilaksanakan dengan jalan menuju personalized learning. Pola pembentukan kader yang mampu menjadi Polymath tersebut di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, misalnya pembelajaran STEAM (Scientific-Technology-Engineering-Art-Math) yang didesain oleh Guru rumpun IPA dengan project-based learning strategy dan personalized learning yang dihadirkan adalah melalui pemilihan kelas bergerak (moving) sesuai dengan goal jurusan apa yang akan diambil saat kuliah. Pilihan konsep menuju kader yang polymath itu ada lagi yaitu menyatukan berbagai mata pelajaran dengan guru mendesain pembelajaran melalui lesson study atau penggabungan mata pelajaran melalui kegiatan kokurikuler berkolaborasi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan di era AI bukanlah bagaimana manusia dapat mengalahkan AI. Tantangannya adalah bagaimana manusia tetap menjadi “manusia” ketika teknologi semakin cerdas. Karena itu, kita membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, integritas, kreativitas, kemampuan bekerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan kesadaran untuk menggunakan ilmu bagi kemaslahatan. Kita membutuhkan polymath yang berkarakter Islami, yaitu kader yang berimtaq dan mampu memahami banyak bidang, tetapi tetap memiliki kedalaman, yang menguasai teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Seorang kader yang berpikir kritis, tetapi tetap berakhlak mulia, memiliki wawasan global, tetapi tidak kehilangan akar nilai. Dan bagi sekolah Muhammadiyah, kader tersebut dapat menjadi wajah baru Islam Berkemajuan di tengah peradaban digital dan kecerdasan artifisial. Maka, mungkin pertanyaan pendidikan hari ini bukan lagi: “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita?” Melainkan:“Manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk masa depan?” Jika jawabannya adalah manusia yang mampu belajar sepanjang hayat, menghubungkan berbagai ilmu, menciptakan solusi, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi sesama, maka sudah saatnya kita mulai membangun pendidikan yang menumbuhkan polymath. Karena masa depan bukan hanya milik mereka yang paling banyak tahu. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan, menciptakan makna, dan mengubahnya menjadi kebermanfaatan. Mari kita buat ekosistem Tajdid untuk kader Muhamamdiyah polymath yang unggul masa depan, siap menghadapi tantangan dan mampu mengubah tantangan tersebut menjadi peluang yang membawa manfaat bagi semua umat manusia masa sekarang dan yang akan datang.

EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!