Oleh : Diah Wulandari, S.Pd.Si
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.
Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah.
Muhammadiyah telah melewati perjalanan panjang dalam mengembangkan dakwah, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan berbagai bidang kehidupan masyarakat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah membawa semangat pembaruan: menghadirkan Islam yang mencerahkan, berkemajuan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Namun, setiap zaman menghadirkan tantangan yang berbeda. Hari ini Muhammadiyah berhadapan dengan generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital, yaitu Generasi Z dan Generasi Alfa. Mereka hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi berada dalam genggaman, komunikasi berlangsung melalui layar, kecerdasan buatan berkembang sangat cepat, dan batas antara ruang nyata dengan ruang digital semakin tipis.
Dalam situasi tersebut, pertanyaan penting bagi Muhammadiyah bukan sekadar bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi bagaimana memastikan nilai-nilai Islam Berkemajuan tetap hidup, dipahami, dan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan menentukan masa depan bangsa. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat dekat dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui internet, media sosial, video pendek, podcast, dan berbagai platform digital. Sementara itu, Generasi Alfa tumbuh lebih jauh lagi dalam ekosistem teknologi. Bagi mereka, perangkat digital, kecerdasan buatan, pembelajaran daring, dan berbagai bentuk teknologi bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini memberikan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, generasi muda memiliki akses pengetahuan yang sangat luas. Mereka dapat mempelajari agama, ilmu pengetahuan, budaya, dan berbagai keterampilan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain, mereka juga menghadapi banjir informasi. Tidak semua informasi benar, tidak semua konten mendidik, dan tidak semua narasi keagamaan yang beredar di internet memiliki dasar pengetahuan yang kuat. Karena itu, Muhammadiyah perlu hadir bukan sekadar sebagai organisasi yang menyampaikan informasi, tetapi sebagai kekuatan yang membantu generasi muda membangun cara berpikir, karakter, dan orientasi kehidupan. Salah satu tantangan penting Muhammadiyah adalah kemungkinan munculnya jarak komunikasi antara organisasi dan generasi muda. Bahasa organisasi yang terlalu formal, kaku, dan penuh istilah internal dapat membuat generasi muda merasa bahwa Muhammadiyah merupakan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Padahal, substansi Islam Berkemajuan sangat relevan dengan persoalan generasi muda: pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan mental, lingkungan, teknologi, keadilan sosial, kewirausahaan, kreativitas, hingga masa depan pekerjaan. Persoalannya adalah bagaimana nilai tersebut dikomunikasikan dengan bahasa yang dipahami generasi mereka.
Muhammadiyah perlu belajar bahwa dakwah pada era digital bukan hanya persoalan memindahkan ceramah ke YouTube atau membuat poster keagamaan untuk media sosial. Lebih dari itu, dakwah harus mampu memasuki cara berpikir dan budaya komunikasi generasi baru. Generasi muda perlu diajak berdialog, bukan hanya diberi nasihat. Mereka perlu diberi ruang untuk bertanya, bukan hanya diminta menerima. Mereka perlu dilibatkan dalam proses, bukan sekadar ditempatkan sebagai objek kaderisasi. Ruang digital telah menjadi arena pertarungan berbagai narasi. Generasi Z dan Alfa dapat menemukan berbagai pandangan keagamaan hanya dengan beberapa kali sentuhan pada layar. Mereka dapat mengikuti tokoh agama dari berbagai negara, melihat beragam perspektif, dan membentuk pandangan keagamaannya melalui pengalaman digital.
Dalam kondisi tersebut, Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki gagasan yang baik. Gagasan tersebut harus hadir, dikemas, dan dikomunikasikan secara menarik di ruang digital. Jika Muhammadiyah tidak hadir dalam ruang tersebut, ruang itu akan diisi oleh narasi lain. Di sinilah tantangan baru dakwah muncul. Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu menjadi komunikator digital, kreator konten, pengelola komunitas, penulis, desainer, pembuat video, podcaster, dan berbagai profesi digital lainnya. Dengan demikian, teknologi tidak dilihat sebagai ancaman terhadap dakwah, tetapi sebagai wasilah atau sarana baru untuk memperluas dakwah Islam Berkemajuan. Generasi muda tidak hanya membutuhkan teori. Mereka membutuhkan contoh nyata. Di era media sosial, generasi muda dapat melihat secara langsung bagaimana tokoh, pemimpin, guru, dan orang dewasa menjalankan nilai yang mereka sampaikan. Ketika seseorang berbicara tentang kejujuran tetapi melakukan hal yang bertentangan dengan kejujuran, generasi muda akan melihat kontradiksi tersebut.
Karena itu, tantangan Muhammadiyah bukan hanya bagaimana menyampaikan nilai Islam Berkemajuan, tetapi bagaimana menghadirkannya dalam perilaku organisasi dan kehidupan kader. Islam Berkemajuan harus tampak dalam budaya kerja yang profesional, pelayanan yang ramah, kepemimpinan yang amanah, pengelolaan lembaga yang transparan, serta keberpihakan kepada masyarakat. Kaderisasi merupakan salah satu kekuatan penting Muhammadiyah. Namun, pola kaderisasi perlu terus dievaluasi agar sesuai dengan karakter generasi baru. Generasi Z dan Alfa cenderung menyukai pengalaman belajar yang interaktif, kolaboratif, visual, praktis, dan relevan dengan kehidupan mereka. Karena itu, kaderisasi tidak cukup hanya berupa ceramah dan kegiatan seremonial. Kaderisasi perlu memberikan pengalaman nyata.
Generasi muda dapat dilibatkan dalam proyek sosial, kegiatan lingkungan, kewirausahaan, literasi digital, pengembangan teknologi, penelitian, pengabdian masyarakat, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya. Mereka perlu merasakan bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti memiliki kesempatan untuk berkarya dan memberikan manfaat. Kaderisasi yang baik bukan hanya menghasilkan orang yang hafal nilai-nilai organisasi, tetapi menghasilkan generasi yang mampu menghidupkan nilai tersebut dalam konteks zaman yang terus berubah. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam pendidikan, pekerjaan, komunikasi, dan kehidupan sosial. Generasi Alfa kemungkinan akan tumbuh dalam lingkungan yang semakin terintegrasi dengan AI. Mereka akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang belum banyak dibahas oleh generasi sebelumnya.
- Bagaimana etika menggunakan AI?
- Bagaimana membedakan karya manusia dan karya mesin?
- Bagaimana menjaga kejujuran akademik ketika teknologi dapat menghasilkan jawaban secara instan?
- Bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan respons keagamaan yang tidak defensif terhadap teknologi, tetapi juga tidak menerima teknologi secara tanpa kritik. Di sinilah Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menghadirkan etika Islam dalam perkembangan teknologi. Islam Berkemajuan harus mampu membentuk generasi yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki literasi moral dan spiritual dalam menggunakan teknologi.
Refleksi
Tantangan terbesar terkadang bukan kurangnya program, tetapi kurangnya kemampuan untuk mendengarkan. Generasi muda memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda. Mereka menghadapi persoalan yang mungkin tidak pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Karena itu, Muhammadiyah perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi suara generasi muda. Bukan berarti semua gagasan generasi muda harus diterima tanpa kritik. Namun, gagasan tersebut perlu didengar, didiskusikan, dan diberi ruang untuk diuji. Muhammadiyah dapat menjadi organisasi yang kuat apabila terjadi dialog antargenerasi: generasi senior memberikan pengalaman dan kebijaksanaan, sementara generasi muda membawa energi, kreativitas, dan perspektif baru. Dengan demikian, regenerasi bukan berarti menggantikan generasi lama dengan generasi baru, tetapi membangun kesinambungan antara pengalaman masa lalu dan visi masa depan.
Yang kedua, setiap organisasi memiliki kecenderungan untuk mempertahankan tradisi yang telah terbukti berhasil. Namun, sesuatu yang berhasil pada masa lalu belum tentu cukup untuk menjawab persoalan masa depan. Nilai dasar tidak harus berubah, tetapi cara mengaktualisasikannya dapat terus berkembang. Semangat tajdid atau pembaruan justru mengajarkan pentingnya keberanian membaca realitas dan mencari bentuk terbaik untuk menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, Muhammadiyah tidak perlu takut terhadap perubahan. Yang perlu dijaga adalah agar perubahan tidak membuat organisasi kehilangan orientasi nilai.
Refleksi ketiga, sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat penting dalam menghadapi era Gen Z dan Alfa. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan, tetapi merupakan ruang pembentukan karakter dan cara berpikir. Selain itu, sekolah Muhammadiyah perlu menjadi laboratorium Islam Berkemajuan. Di sana siswa tidak hanya belajar agama, matematika, sains, bahasa, dan teknologi, tetapi juga belajar menjadi manusia yang jujur, kritis, kreatif, peduli, toleran, dan bertanggung jawab. Pembelajaran dapat diarahkan pada persoalan nyata. Siswa dapat diajak menyelesaikan masalah lingkungan, mengembangkan teknologi sederhana, membuat proyek sosial, melakukan penelitian, mengembangkan kewirausahaan, serta memanfaatkan AI secara etis.
Dengan demikian, pendidikan Muhammadiyah tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar, tetapi generasi yang mampu menggunakan kepintarannya untuk kemaslahatan. Salah satu pekerjaan besar Muhammadiyah ke depan adalah mengubah Islam Berkemajuan dari sekadar konsep menjadi pengalaman yang dirasakan generasi muda. Generasi Z dan Alfa perlu melihat bahwa Islam Berkemajuan berarti: belajar dengan sungguh-sungguh, berpikir kritis dan terbuka, menghargai perbedaan, peduli terhadap lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, selalu berinovasi, menjunjung integritas, profesional dan yang paling penting dapat menghadirkan manfaat bagi sesama. Jika nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari, maka Islam Berkemajuan tidak akan terasa sebagai slogan yang jauh dari kehidupan generasi muda tapi akan menjadi cara hidup.
Strategi Muhammadiyah Menjemput Gen Z dan Alfa
Menghadapi tantangan tersebut, beberapa langkah strategis dapat dilakukan.
1. Membangun komunikasi dua arah
Muhammadiyah perlu menciptakan ruang dialog yang memungkinkan generasi muda menyampaikan gagasan, kritik, dan harapan.
2. Memperkuat ekosistem digital
Dakwah dan pendidikan perlu dikembangkan melalui berbagai format digital yang kreatif, informatif, dan sesuai dengan karakter generasi muda.
3. Memberikan ruang kepemimpinan
Generasi muda perlu diberi kesempatan memimpin proyek, komunitas, program sosial, dan inovasi organisasi.
4. Mengembangkan kader berbasis kompetensi
Kader Muhammadiyah masa depan perlu memiliki kombinasi antara keimanan, keilmuan, kepemimpinan, teknologi, kreativitas, dan kemampuan kolaborasi.
5. Mengintegrasikan AI dengan pendidikan dan dakwah
Muhammadiyah perlu menjadi bagian dari diskusi tentang etika dan pemanfaatan AI, sekaligus mendorong penggunaannya untuk pendidikan, penelitian, pelayanan sosial, dan dakwah.
6. Memperkuat keteladanan
Nilai organisasi harus terlihat dalam tindakan nyata para pemimpin, guru, kader, dan seluruh warga Muhammadiyah.
Penutup:
Generasi Z dan Generasi Alfa bukan sekadar kelompok usia baru. Mereka adalah generasi yang akan hidup dalam dunia yang semakin digital, cepat, kompleks, dan penuh perubahan. Karena itu, Muhammadiyah perlu melakukan refleksi mendalam. Pertanyaannya bukan hanya: “Bagaimana agar generasi muda tertarik kepada Muhammadiyah?” Tetapi juga: “Apakah Muhammadiyah sudah menjadi ruang yang relevan bagi generasi muda untuk bertumbuh, berpikir, berkarya, dan mengabdi?”
Pertanyaan tersebut penting karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar organisasi mampu mempertahankan jumlah amal usahanya, tetapi juga oleh seberapa berhasil organisasi mewariskan nilai dan menumbuhkan generasi penerus yang mampu membawa spirit Islam Berkemajuan ke masa depan.
Muhammadiyah tidak perlu menjadi organisasi yang sekadar mengikuti tren anak muda. Muhammadiyah justru perlu menjadi organisasi yang memahami zaman tanpa kehilangan jati diri. Nilai-nilai dasar harus tetap kokoh, tetapi cara menyampaikannya harus terus diperbarui. Tradisi keilmuan harus dipertahankan, tetapi metode pembelajarannya harus berkembang. Semangat dakwah harus dijaga, tetapi ruang dakwah harus diperluas. Kaderisasi harus terus dilakukan, tetapi generasi muda harus diberi ruang untuk menjadi pelaku perubahan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Muhammadiyah di era Gen Z dan Alfa bukanlah teknologi, media sosial, atau perubahan budaya semata. Tantangan terbesarnya adalah kemampuan untuk tetap menjadi organisasi yang bermakna bagi manusia yang hidup di zamannya.
Jika Muhammadiyah mampu melakukan itu, maka Islam Berkemajuan tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi akan terus menjadi energi perubahan yang menjemput masa depan. Sebab, menjaga masa depan Muhammadiyah pada hakikatnya bukan sekadar menjaga sebuah organisasi. Menjaga masa depan Muhammadiyah berarti menjaga agar nilai Islam yang mencerahkan, memajukan, dan memanusiakan tetap hidup di tengah generasi yang terus berubah.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!